Posted by: ndatiu on: December 4, 2008
Indonesian Idol
Suka nonton Reality Show seperti Indonesian Idol. Dulu ratingnya paling tinggi di antara Reality Show serupa yang Indonesia punya seperti KDI, AFI dan lainnya. Tapi sekarang aku ada feeling kuat kalo Indonesian Idol akan berhenti tak lama lagi, senasib dengan saudaranya AFI karena jatuh pamor di mata pemirsa.
Kenapa aku mengatakan hal ini?
Aku mengikuti perkembangan Indonesian Idol ini dari edisi pertama sampai edisi yang sekarang (edisi empat). Di Indonesian Idol Satu penyanyinya bagus-bagus dan hampir bertipe suara sama. Penilaian juri cukup mempengaruhi polling SMS. Dan juri pada saat itu (Indra, Titi, Mutia, Jay) sangat objektif dan selektif menilai penyanyi yang masuk di 12 besar. Meskipun menurutku agak aneh Delon bisa mencapai peringkat runner up (yang katanya ganteng, he), tapi Joy-lah yang menjadi Idol. Mutu Joy dalam menyanyi memang terbukti lebih baik dibanding Delon, terlebih-lebih untuk tampil di panggung. Salut untuk Indonesian Idol Satu.
Puncak kejayaan Indonesian Idol terjadi di Indonesian Idol Dua. Sebenarnya aku kurang suka Mike yang jadi Idol, tapi aku akui Mike memang penyanyi handal. Penampilan fisik bukanlah modal yang terlalu diperhitungkan dalam kontes menyanyi, dan hal itu dibuktikan Indonesian Idol Dua. Memang ada unsur-unsur melankolis yang selalu dilibatkan untuk memperoleh polling SMS, tapi tetap saja yang terpilih adalah penyanyi yang oke punya. Indonesian Idol Dua menampilkan penyanyi dengan genre berbeda-beda, Mike dengan aliran pop, Judika yang serba bisa, Firman yang beraliran rock, Monita yang menguasai Jazz dan seterusnya. Two Thumbs Up.
Aku nge-fans berat dengan Judika. (^__^)
Tak bisa kusembunyikan, I’m a big fan of him, He is so talented. Pokoknya pada saat Idol Dua tayang, aku bela-belain naik taksi pulang ke rumah untuk nonton idol, padahal aku lagi diasramakan di Balai Diklat. ![]()
Kukira Indonesian Idol Tiga pasti lebih seru. Kecewa harus kutelan. Kenapa kok yang dipilih seperti penyanyi AFI? Memang ada beberapa penyanyi AFI yang bagus, tapi setelah melihat jalur mereka setelah AFI, aku jadi ill-feel. Yang kumaksud “seperti penyanyi AFI” di sini adalah ABG yang berpenampilan trendy, cakep-cakep tapi ketika menyanyi suaranya seperti orang kebanyakan? Fals dan pitch control adalah bagian dari penyanyi� Idol Tiga. Kok jadi jatuh gini mutunya? Atau Penyelenggara memang ingin banting stir supaya ntar anak Idol ini bisa dibawa ke sinetron? Aaaah… ini mimpi buruk yang jadi kenyataan. Dan benar aja, sekarang Ihsan, Gea dan Dirly jadi bintang sinetron kejar tayang.
Yang membuat semuanya makin buruk adalah unsur belas kasihan sangat ditonjolkan. Misalnya, keluarga si A sangat menderita dan taat beragama, hidup sulit dan sangat mengharapkan anaknya berhasil dalam idol ini. Apaan tu? Ini kontes menyanyi atau Reality Show “Toloooong”?
Aku sinistik ya? Tapi aku memang kecewa berat dengan hasil Indonesian Idol Tiga ini. Pernah sekali aku nonton ajang duel idol di RCTI karena begitu inginnya melihat Judika atau Lucky nyanyi, Ihsan naik panggung (maaf ya, abis aku paling ingat Ihsan sih) dan mulai menyanyi tapi ternyata dia salah mengambil awal lagu makanya jadi amburadul dan untunglah penonton menyanyi untuk membantunya. Dan itu tidak terjadi satu dua kali pada penyanyi-penyanyi ini. Kukira penyanyi yang sesungguhnya tidak akan melakukan kesalahan itu berulang kali karena bagaimanapun juga menyanyi itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Itu “gue banget” tuh nyanyi fals. Hihihi…
Bagaimana dengan Indonesian Idol Empat? Cukup sudah. Aku sudah mulai ogah nontonnya. Sesekali pengen juga melihat perkembangannya, eh ada yang lumayan tuh, namanya Fandy yang kejegal di putaran� akhir. Bagian yang paling tidak mengenakkan adalah ketika juri tidak pernah mengkritik nada fals penyanyi yang mungkin sudah jadi pilihan mereka masing-masing. Jadi ga objektif banget rasanya. Di rumah kita bisa ngerasa “Loh kok fals sih?”, tapi jurinya malah bilang “Kamu bagus banget malam ini”.
Aku ga ingat kapan tu, aku nonton juga karena rasa ingin tahu yang tinggi
. Salah seorang dari finalis menyanyikan lagu Agnes Monica. Si Anang bilang “Lebih bagus dari penyanyi aslinya”. Haaah? Aku bingung, bagusan dari sudut mananya? Nah, itu belum seberapa, setelah itu ga inget juri yang mana, mengomentari Rini (kalo ga salah) nyanyiin lagu Celine Dion begini “Lebih bagus dari aslinya”. Kami yang menonton langsung “weeeekkk…” serentak. Kenapa sih para juri ini? Jangan-jangan headset yang mereka pake rusak kali ya. Atau mereka ga pernah dengar Celine Dion nyanyi? Yang bener?
Pengkultusan seseorang pun muncul di Indonesian Idol ini. Semua jurinya mengidolakan Rini kayaknya (terlihat dari pendapat ketika Rini berada di 2 peringkat terbawah). Mungkin karena itu penilaian mereka jadi kurang objektif.
Coba lihatlah American Idol (versi original-nya), akan sangat terasa bedanya. Di sana tidak ada penilaian fisik yang berlebihan atau menyamai kemampuan nyanyinya. Yang ditonjolkan adalah kemampuan nyanyinya, mau gendut-jelek-ga ngerti fashion tapi kalo berbakat nyanyi dan punya keunikan dalam suaranya pasti maju ke babak spektakuler. Karena bakat itulah yang membuatnya tetap bertahan di dunia entertainment. Simon sebagai salah satu juri tetap selalu menilai objektif dan tajam. Meskipun dia ga suka seseorang, dia akan tetap mendengar kelebihannya. Soal penampilan itu polesan yang bisa diatur. Kasarnya, kalo pengen lomba penampilan ikuti aja lomba modeling atau casting masuk sinetron Indonesia. Pernah ga melihat penyanyi di babak spektakuler di American Idol yang fals? Kesalahan yang pernah kulihat adalah salah lirik dan setelah itu terjadi penyanyi itu pasti keluar. Nggak kayak Idol kita, mo salah lirik atau sama sekali ga bisa (bahasa inggrisnya salah-salah), tetep aja dia ada, bahkan sampai menjadi Idol.
—-sori ya aku sinis banget—-
Aku tahu banyak penggemar apalagi saudara para Idol ini. Tapi aku benar-benar merasa kecewa sebagai mantan fans.
Dari sudut pandangku sendiri, mungkin Penyelenggara Indonesian Idol sedang mengeset program ini untuk pencarian bakat yang komersil untuk jangka pendek, yang unik (aku ga tau unik dari sisi mana), yang menjual, yang berpenampilan menarik dan bisa dipakai di luar jalur menyanyi. Tapi berpikirkah mereka kalo yang begituan ga bertahan lama, lihatlah AFI yang nasibnya ga tau sudah gimana. Dan lihatlah pula American Idol yang melahirkan bintang-bintang, yang dapat Oscar tapi tidak lepas dari jalur nyanyinya dan yang mulai menelurkan album-album laku di pasaran?
Indonesian idol adalah suatu ajang pencarian bakat yang diadopsi dari Pop Idol (Inggris) dengan sponsor dari FremantleMedia yang bekerjasama dengan RCTI. Ajang ini merupakan pencarian idola di bidang tarik suara. Indonesian Idol telah menjadi Reality Show terbesar di Indonesia. Setelah kemunculan Indonesian Idol, banyak Reality Show lain yang ditayangkan.[rujukan?]
Indonesian Idol memenangkan Panasonic Awards untuk kategori Music & Variety Show Terbaik selama 2 tahun berturut-turut, mengalahkan Akademi Fantasi Indosiar serta KDI yang berada di nominasi yang sama. Indonesian Idol juga mendapatkan penghargaan dari Singapore Tourism Board saat kesebelas finalis Indonesian Idol berada di Singapura untuk menjadi pembuka tur dunia American Idol musim ketiga.